Dik, tiga tahun itu bukan waktu yang lama, maka nikmati
dengan berbagai hal, entah kau berprestasi atau ingin menjadi remaja nakal
(asal nakalnya bukan yang kelewatan) karena masa itulah masa paling banyak
yang di rindukan. Penuhi segala rasa
penasaran dan ingin tahumu tentang berbagai hal, cari jati dirimu, temukan
passionmu, asah bakatmu, tekuni hobbymu tapi jangan mencoba yang membuatmu
ketergantungan seperti seks dan narkoba, pesan saya jauhi dua hal ini. Kenapa
saya berpesan untuk menjauhi dua hal ini, karena seks ibarat candu, akan
membuatmu ketagihan, sekali mencoba akan terus mencoba sehingga kamu gagal
focus pada impianmu. Sedangkan narkoba, pasti sudah tahu kalau barang haram ini
selain dilarang agama juga dilarang Negara. Dan paling parahnya kamu bisa saja
menghabiskan sebagian hidupmu di balik jeruji besi.
Setelah tamat akan
sulit menjalankan itu semua dan lebih banyak lagi tantangan hidup. Kehidupan akan lebih kompleks, penuh tantangan dan ketidakpastian. Setelah tamat kamu
sudah harus menentukan akan jadi apa kamu 5 tahun kemudian, 10 tahun kemudian,
20 tahun kemudian 40 tahun kemudian. Setelah tamat sudah pantang lagi untuk
berbuat hal yang berpotensi merugikan diri yang akan membawamu gagal meraih
cita-cita. Pantang untuk terlalu lama berleha-leha di zona nyamanmu. Meski
akhirnya kamu memilih tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
karena alasan klise yaitu otak sudah tidak mampu atau alasan lain factor
ekonomi misalnya namun ingat belajar itu dimana saja bukan hanya di tempat
formal. Kamu bisa memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, fb misalnya kamu
bisa gabung di grup yang sesuai dengan hobbymu.
Dik, saya, ketika pulang ke rumah sehabis merayakan
kelulusan dengan coret-coretan, saya menatap baju putih saya yang penuh dengan
warna-warni pilox dan tanda tangan teman seperjuangan, tiba-tiba saya teringat
saat-saat dimana saya baru saja di Mos. Rasanya baru kemarin saja saya di Mos,
sekarang sudah tiga tahun berlalu, waktu sungguh berjalan cepat pikirku. Ada
rasa bangga karena tidak lagi berstatus pelajar, namun kesedihan juga menghiasi
batinku karena terpisah oleh sahabat. Ada rasa gamang akan kemana saya setelah
ini, waktu terasa berjalan lambat. Tiba-tiba bunyi hape menghentikan laumunanku
sebuah sms masuk, bunyinya “kawan, rasanya baru kemarin kita di mos sekarang
kita sudah lulus”, saya memutuskan tidak membalasnya dan melanjutkan lamunanku,
teringat semua apa saja yang terjadi selama tiga tahun ini, sudut sekolah yang
punya kenangan, perkelahian dengan teman , dihukum oleh guru, Pdkt-in adek
kelas dan berbagai keceriaan. Lagi-lagi bunyi hape menghentikankan lamunanku,
sebuah sms masuk dari teman yang lain, smsnya panjang dan saya sudah agak lupa
kurang lebih mengatakan “tiga tahun berjalan begitu cepat, begitu banyak kenangan yang tercipta, rasanya tidak
ingin berpisah dengan kalian namun live must go on bro, jangan ada yang saling
melupakan dan sampai jumpa di puncak kesuksan” begitulah kira-kira sms seorang
kawan. Setelah selesai membacanya saya berdiri menuju dapur untuk makan siang
karena perut mulai terasa keroncongan.
Dik, esoknya sehari setelah hari pengumuman, ada satu
kejadian yang menggelitik bagi saya, pagi itu saya bangun pagi seperti
biasanya, bangun langsung mandi, kemudian sarapan dan mengenakan seragam
sekolah, tiba-tiba adek saya bertanya “mau kemana, kamu kan kemarin sudah
penentuan?”. Saya hanya nyengir. Rupanya saya bukan lagi pelajar, pikirku.