Siapa yang saya maksud dengan
‘kami’?? kalian yang tidak mengenal saya tentu bertanya lingkaran persahabatan
yang mana yang saya maksud. Atau kalian sudah mengenal saya dan masih
bertanya-tanya. Yang saya maksud ‘kami’ disini adalah para kawan-kawan sekelas
masa sekolah putih abu-abu. Meski masa putih abu-abu kami telah berakhir namun
tidak dengan persahabatannya, kini kami telah bersahabat selama lebih tujuh
tahun, yang menurut seorang psicolog yang mengatakan jika suatu persahabatan
telah terjalin selama tujuh tahun maka akan bertahan selamanya, *amin*
. Pasca tamat kami masih sering berkumpul, atau paling tidak berkomumikasi via social media yang makin beragam. Tiap tahun, seolah ada ikatan yang membuat kami harus berkumpul untuk silaturahmi, khususnya sehabis lebaran karena pada moment itulah mereka yang berada di luar soppeng kembali ke kampung. Kadang timbul pertanyaan di benak ‘kenapa saya harus hadir?’ dan jawabannya hanya kami yang tau. *pokoknya saya harus hadir*.
. Pasca tamat kami masih sering berkumpul, atau paling tidak berkomumikasi via social media yang makin beragam. Tiap tahun, seolah ada ikatan yang membuat kami harus berkumpul untuk silaturahmi, khususnya sehabis lebaran karena pada moment itulah mereka yang berada di luar soppeng kembali ke kampung. Kadang timbul pertanyaan di benak ‘kenapa saya harus hadir?’ dan jawabannya hanya kami yang tau. *pokoknya saya harus hadir*.
Sebenarnya saya lupa bahwa
persahabatan ini telah mencapai angka tujuh tahun, hingga seorang teman
men-share –memanfaatkan fitur shared memory pada facebook-- sebuah foto
masa putih abu-abu dengan caption “best friends forever” dan seorang kawan berkomentar
“wah sudah tujuh tahun yah” . saya kemudian ikut berkomentar dengan sebuah
quote dalam bentuk gambar yang bunya telah saya sebutkan di atas “menurut seorang psicolog, jika persahabatan
telah terjalin selama tujuh tahun, maka akan bertahan selamanya”. Awetnya
persahabatan ini bukannya tanpa perselisihan, saya masih ingat ketika kelas XI,
kita yang terkenal kompak seantero sekolah terpecah menjadi dua kubu, saya lupa
apa masalah itu hari yang membuat kami terpecah namun perpecahan hanya
berlangsung kurang lebih dua minggu dan kami kembali kompak.
Saat teman men-share foto tersebut, pikiran saya
melayang ke tiga tahun pertama persahabtan kami atau masa putih abu-abu.
Beragam memori kembali bangkit, kekonyolan, kenakalan dan sebagainya. Satu hal
yang membuat saya tersenyum sendiri, sebuah kisah teman pada awal-awal
perkenalan kami. bagi Kami ini lucu, namun bagi mereka berdua mungkin itu memalukan.
Pikiran saya mengenang berbagai hal, misalnya jika kami berada di kantin, kami
seolah sok berkuasa, paling ribut dan seseorang yang membawa uang saku
pas-pasan suka memalak pentolan atau bakwan teman satu per satu dengan jargon “hemaaat”.
Meskipun ruang kelas kami merupakan yang paling jauh dari ruang guru namun
suara keributan paling jelas terdengar di ruang hingga ke ruang guru. Seorang
teman lagi yang sangat hobby pada sepak bola dan memiliki skil dibawah
rata-rata, dia kalau datang ke sekolah, kalau tidak kesiangan , dia akan datang
paling awal. Jika ditanya ‘kenapa telat?’ alasannya pasti tentang bola –kalau
bukan begadang nonton bola, dia melihat berita olaraga di salah satu chanel
nasional—kalau datang paling awal alasanya pun hampir sama, --datang ke sekolah
lebih awal dan menonton berita olaraga di tv ruang guru, sekaligus mengambil
Koran terbaru, lucunya dia hanya mengambil bagian berita olaraga--. Lain lagi
teman yang satu ini, jika jam pelajaran kosong atau guru tidak sempat mengajar,
dia akan tidur pulas di bangku paling belakang atau menggambar anime di sampul
belakang bukunya. Lain kepala lain prilaku, kawan yang satu ini, meski dia
cukup tempramen, --hampir setiap kelas pernah berselisih dengannya—ternyata dia
paling jago soal wanita. Jika tiap kelas dia pernah berselisih, tiap kelas juga
dia punya pacar atau mantan.
![]() |
| para pejantan tangguh. |
***
Pergeseran waktu memang tak bisa dihentikan,
meski bateray jam dinding telah kehabisan daya. Tak terasa kini kami telah
bersahabat selama lebih tujuh tahun –terhitung tiga tahun masa putih abu-abu--.
Sudah ada yang melaju jauh menggapai mimpi, mencapai gelar S1 misalnya. Ada
yang memilih meneruskan studynya bergelut dengan angka (red:jurusan akuntansi)
ada yang mengikuti passion kepemimpinan dengan kuliah manajemen. Atau mencari
dan mencoba hal baru di bangku kuliah dengan memilih jurusan informatika. Ada
juga memilih menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dengan kuliah pendidikan guru,
Sisanya memilih kerja walau dengan modal ijasah SMK. Oh iya ada juga yang
kuliah di parenting di kehidupan nyata dengan mendapatkan jodohnya lebih awal.
Mereka yang telah menikah bahkan
ada yang sudah memiliki dua orang anak dan yang satunya menunggu kelahiran anak
pertama.
Mereka yang telah menikah
--seolah ingin mengikuti urutan daftar nama saat sekolah--:
1. Ayusfita
2. Eka
fitriani
3. Eka
fitrianti
4.
5. Entah siapa lagi yang akan
mengisi pos ke empat dan seterusnya, apakah betul-betul berurutan sesuai dengan
daftar nama atau bagaimana, biarlah itu menjadi rahasia tuhan.
Lantas bagaimana dengan
cowok-cowoknya, apakah sudah ada yang menemukan jodohnya? Jawabannya belum.
Mereka masih tertatih-tatih dalam mengumpulkan uang panai *mahar* --sebenarnya
bukan mahar, --silahkan googling untuk mencari penjelasannya--. Kalian tau
sendiri kan mahar gadis bugis sungguh memaksa lelaki bugis bekerja keras. Kalau
belum tau, Silahkan googling dengan keyword mahar tertinggi di Indonesia, dan
anda akan dapatkan gadis bugis di posisi teratas.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar