Iseng saya membuka beranda akun
facebook saya, awal saya membuat (baca;dibuatkan, karena kala itu masih gaptek)
sekitar tahun 2011 april, saya mulai kenal yang namanya facebook. Kala itu baru
kelas 2 tingkat Smk, fb belum popular di
kalangan teman2 saya jadi teman fb saya mayoritas orang yang di recomendasikan
oleh fb yang pastinya bukanlah orang yang saya kenal di dunia nyata.
Di beranda tersebut, terdapat
berbagai status alay dan semacamnya yang membuat saya senyum-senyum sendiri membacanya,
untungnya tulisannya bukan tulisan yang bercampur angka-simbol, capital-kecil
jadi masih mudah untuk membacanya.
2 tahun pertama saya main fb
banyak menceritakan tentang masa putih abu-abu, mayoritas bercerita tentang
akhir masa sekolah yang indah (hal yang tak dapat dipungkiri), betapa padatnya
jadwal belajar karena ada jam tambahan untuk pelajaran tertentu, membolos
karena bosen ikut pelajaran tambahan dan banyak lagi kisah yang terangkum
disana.
Seiring dengan berjalannya waktu,
lingkaran pertemanan pun mulai bertambah. Banyak teman yang hijrah ke ibu kota
untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi atau mencoba
peruntungan dengan modal ijasah SMK. Mungkin karena kesibukannya mereka tidak
lagi menyempatkan buka facebook hal ini terlihat dari beranda mereka yang tidak
ada lagi update-an terbaru atau mereka membuat akun yang lain. Tentu ini tidak
semuanya masih ada teman yang setia pakai akun lama.
Saya jadi ingat masa sekolah saya
yang banyak warna, tentang kakak kelas menyebalkan yang masih memelihara system
senioritas, adik kelas yang cantik nan imut, teman seangkatan yang rese’ dan
suka cari masalah, tentang guru BK yang rajin swiping pakaian yang tidak rapi, teman
sekelas yang kocak dan paling ribut namun paling setiakawan. Saat ini, kami
sudah terpencar-pencar dan sudah punya hidup sendiri bahkan beberapa sudah
lost-contact sama sekali.
Bahkan teman sekelas pun sudah
ada yang lost-contact. padahal, melihat kesetiakawanan kami masa itu tak pernah terpikir kalau kami akan
lost-contact. Meski masih ada yang tetap berkomunikasi dan tidak lost-contact.
Kami yang tidak lost-contact tetap mencoba meluangkan waktu untuk reuni setiap
tahun pasca lebaran.
Menjaga pertemanan ternyata
susah-susah gampang.
Sebait puisi buat kalian:
Datang dan pergi
Saya selalu percaya begitulah
hidup ini
Semua punya musim sendiri-sendiri
Semua punya waktu dan jadwal
sendiri-sendiri
Karena tidak ada yang abadi
Di dunia ini
Semua akan hancur dan pergi
Tinggal waktunya saja untuk
menghampiri.